TINGKAH
LAKU
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 landasan teori
a.
tingkah laku tumbuhan
Geotropisme
negatif, adalah gerak yang menjauhi gaya gravitasi bumi. Contoh: Gerak pada
ujung batang tumbuhan.
Geotropisme
atau gravitropisme merupakan gerak tropisme yang disebabkan rangsangan gaya
gravitasi bumi. Geotropisme ada dua yaitu geotropisme positif dan geotropisme
negatif. Geotropisme positif adalah gerak organ tumbuhan searah gravitasi bumi,
misalnya gerak akar tumbuhan.Sedangkan geotropisme negatif adalah gerak
berlawanan arah gravitasi bumi.
Gerak ujung akar kepala itu sutau
geotropi yang positif. Sedang jurusan yang ditempuh oleh cabang-cabang akar
yang agak mendatar itu disebut diogeotropik atau transversal-geotropik.
Sebaliknya, jurusan yang ditempuh oleh ujung batang itu disebut geotropi yang
negatife. Gravitropisme dibagi menjadi dua, yaitu gravitropisme positif
(gerakan pertumbuhan akar menuju arah gravitasi bumi dan gravitropisme negatif
(gerakan pertumbuhan akar menjauhi gravitasi bumi. Namun pada umumnya akar bersifat
gravitropisme positif.(Dwidjoseputro,D.1985).
Fototropisme
Fototropisme
adalah gerak bagian tumbuhan karena rangsangan cahaya. Gerak bagian tumbuhan yang
menuju ke arah cahaya disebut fototropisme positif. Misalnya gerak ujung batang
tumbuhan membelok ke arah datangnya cahaya.
Telaah
mengenai mekanisme fototropisme di mulai oleh percobaan yang dilakukan oleh
Charles Darwin dan putranya Francis. Percobaan dilakukan dengan menghilangkan
ujung pucuk batang, dan didapatkan hasil bahwa fototropisme tidak terjadi
disebabkan hilangnya pucuk tersebut. Begitu pula ketika ujung pucuk di lapisi
bahan yang tidak dapat ditembus cahaya. Namun, fototropisme tetap terjadi
ketika seluruh bagian tumbuhan dikuburkan ke dalam pasir hitam halus dan hanya
ujung pucuk yang berada di luar, yang menyebabkan membeloknya batang. Dari
percobaan ini dijelaskan bahwa, rangsangan (cahaya) terdeteksi pada suatu
tempat (ujung pucuk) dan responnya (pelengkungan) dilaksanakan di tempat lain
(daerah perpanjangan).
Mekanisme fototropisme dijelaskan dari percobaan yang
dilakukan oleh Boysen dan Jensen dan disempurnakan dengan penemuan auksin oleh
F.W. Went. Auksin memiliki peran penting dalam pembelokan batang ke arah
cahaya. Auksin merupakan kordinato kimiawi yang berperan dalam pertambahan sel
dan pertumbuhan. Auksin berada pada ujung pucuk, sehingga ketika cahaya berada
di atas tumbuhan, akan terjadi distribusi auksin dari pucuk ke daerah
pemanjangan secara vertikal. Namun ketika cahaya diberikan dari salah satu sisi
batang, menyebabkan distribusi auksin secara lateral (asimetrik) dari sisi yang
mendapatkan cahaya ke sisi yang gelap. Bagian tanaman yang tidak disinari
mendapatkan konsentrasi auksin yang lebih tinggi.
Hal ini menyebabkan sisi batang yang pada daerah gelap
akan mengalami pertumbuhan sel lebih cepat, sehingga batang seperti berbelok ke
arah datangnya cahaya. Bagian tanaman yang tidak disinari mendapatkan
konsentrasi auksin yang lebih tinggi.
Diperkirakan distribusi auksin yang asimetrik,
disebabkan oleh gabungan tiga mekanisme yang berbeda, yaitu:
a.
Terjadinya perusakan auksin oleh cahaya (photodestruction) pada bagian
koleoptil yang terkena cahaya.
b.
Meningkatnya sintesis auksin pada bagian koleoptil yang gelap
c.
Adanya angkutan auksin secara lateral dari bagian yang terkena cahaya menuju ke
bagian yang gelap.
Cahaya yang paling efektif dalam merangsang
fototropisme adalah cahaya gelombang pendek, sedangkan cahaya merah tidak
efektif. Di duga respon fototropis ini ada kaitannya dengan karoten dan
riboflavin, karena kombinasi penyerapan spectrum oleh karoten dan riboflavin
mirip dengan pola kerja spektrum terhadap fototropisme.
Fototropisme
dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Fototropisme positif, adalah
gerak tanaman menuju ke arah datangnya cahaya. Contoh: Ujung batang bunga
matahari yang membelok menuju ke arah datangnya cahaya.
Gambar 02. Bunga Matahari (Helianthus
annuus) selalu mengikuti arah cahaya matahari
2) Fototropisme negatif, adalah gerak tanaman atau bagian
tanaman menjauhi arah datangnya cahaya. contoh: gerak ujung akar yang menjauhi
arah datangnya cahaya.
Hidrotropisme
Hidrotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena pengaruh air.
Peristiwa hidrotropisme, misalnya pada gerak akar tumbuhan menuju sumber air.
contoh: gerak ujung akar kecambah menuju tempat yang berair.
Jika gerakan itu mendekati air maka disebut hidrotropisme positif. Misalnya,
akar tanaman tumbuh bergerak menuju tempat yang banyak airnya di tanah. Jika
tanaman tumbuh menjauhi air disebuthidrotropisme
negatif. Misal gerak pucuk batang tumbuhan yang tumbuh ke atas air.
Respon
tumbuhan tanaman ditentukan oleh stimulus gradient atau konsentrasi air
(kelembaban). Kelembaban menyebabkan membeloknya akar ke daerah yang mengandung
air dengan konsentrasi yang lebih besar.
Pengamatan terkait hidrotropisme belum banyak
berkembang, karena bagian tumbuhan yang mendapat pengaruh adalah akar. Tetapi
jika dibandingkan dengan pengaruh gravitasi, pertumbuhan akar ke bawah lebih di
mungkinkan karena adanya rangsangan gravitasi di bandingkan rangsangan air. Setiap organisme mampu menerima rangsang yang disebut
iritabilitas, dan mampu pula menanggapi rangsang tersebut. Salah satu bentuk
tanggapan yang umum adalah berupa gerak. Gerak berupa perubahan posisi tubuh
atau perpindahan yang meliputi seluruh atau sebagian dari tubuh. Jika pada
hewan rangsang disalurkan melalui saraf, maka pada tumbuhan rangsang disalurkan
melalui benang plasma (plasmodema) yang masuk ke dalam sel melalui dinding yang
disebut noktah (Salisbury dan Ross, 1995).
b.
tingkah laku hewan
Sistem saraf annelida
adalah sistem saraf tangga tali.Ganglia otak terletak di depan faring pada
anterior.Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia,
nefrostom, dan nefrotor.Nefridia ( tunggal – nefridium ) merupaka organ
ekskresi yang terdiri dari saluran.Nefrostom merupakan corong bersilia dalam
tubuh.Nefrotor merupa-kanpori permukaan tubuh tempat kotoran keluar.Terdapat
sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya. Sebagian besar annelida hidup
dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada vertebrata,
termasuk manusia.Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan
tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembab.
Annelida hidup diberbagai tempat dengan membuat liang sendiri Cacing tanah
merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka
sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi
mikroorganisme patogen di lingkungan mereka.Penelitian yang telah berlangsung
selama 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan
selular mekanisme. Telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung
lebih dari 40 protein (Khoeruddin, 2000).
Annelida umumnya bereproduksi
secara seksual dengan pembantukan gamet. Namun ada juga yang bereproduksi
secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi.Organ seksual annelida ada yang
menjadi satu dengan individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu
lain (gonokoris) (Budiarti, 1992).
Annelida (dalam bahasa latin,
annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh
bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida
merupakan hewan tripo-blastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan
selomata). Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling
sederhana (Bawa, 1993).
1.2 tujuan
1.
mengenal 3 macam gerak tropis pada
tumbuhan
2.
mengenal 3 bentuk reaksi/ prilaku hewan
terhadap berbagai rangsangan
3.
menganal reaksi hewan yang bersifat phototaksis,
positif dan negatif
BAB
II PELAKSANAAN PRAKTIKUM
2.1 waktu dan tempat
Waktu : kamis, 14 november
2013
Tempat : laboratorium biologi
2.2 alat dan bahan
2.2 alat dan bahan
1.
gelas plastik
2.
tanah yang kering
3.
cacing tanah
4.
kacang hijau
5.
kotak ukuran 20 x 20 cm
6.
gelas petri
7.
air
8.
tepung sagu
9.
kertas karbon
10.
pisau
2.3 cara kerja
a. gerak pada tumbuhan
fototropisme
1.
rendam biji kacang hijau kurang lebih 15
biji
2.
isi gelas plastik dengan tanah
3.
lubangi kotak pada salah satu sisi
4.
basahi tanah
5.
tanam 6 biji kacang hijau
6.
simpan gelas tersebut pada kotak dan
amati pada hari ke 3 4 dan 5
geotropisme
1.
rendam iji kacang hijau kurang lebih 15
biji
2.
isi gelas plastik dengan tanah yang
lembab
3.
tanam 6 biji kacang hijau
4.
setelah hari ke 2 miringkan gelas
tersebut dengan kemiringan 45˚, amati pada hari ke 2 3 dan 4
hidrotropisme
1.
isi gelas dengan tanah basah pada
setengah sisi, kemudian setengah sisinya diisi tanah kering ( untuk lebih
mudahnya, sementara diberi pembatas kertas)
2.
tanam biji kacang hijau 6 biji pada
sekeliling permukaan tanah
3.
simpan dan amati setelah hari ke 2 3 dan 4
b . gerak pada hewan
1.
Sediakan cawan petri dan kertas karbon
berbentuk setengah lingkaran
2.
Tutuplah cawan petri dengan kertas
karbon hingga setengah bagian menjadi gelap
3.
Masukkan seekor cacing tanah pada bagian
cawan yang terkena cahaya
4.
Amati bagaimana gerakan cacing tersebut
5.
Setelah cacing sampai pada bagian yang
gelap angkatlah cacing tersebut kemudian taburi bekas jejak cacing tersebut
dengan sagu. Balikkan cawan petri tersebut sehingga tampak adanya tepung yang
menempel pada petri.
BAB.
III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
hasil
a. gerak
pada tumbuhan
|
perilaku
|
Hasil pengamatan
|
|
hidrotropisme
|
Kacang hijau yang
ditanam selama kurang lebih seminggu yaitu dengan tanah basah dan tanah
kering dilakukan penyiraman pada tanah yang basah saja, dan kacang ditanam
pada tanah yang kering. Dan tanaman tumbuh mengikuti arah air atau mendekati
tanah yang basah.
|
|
fototropisme
|
Kacang hijau yang ditanam dan dimasukkan
kedalam kotak. Yang dilubangi hasilnya adalah kacang hijau keluar menuju arah
lobang atau kearah datangnya sinar matahari. Dua buah tanama berhasil dan
satu tidak berhasil
|
|
geotropisme
|
Kacang hijau yang
ditanam pada akua gelas plastik dua hari kemudian aqua tersebut dimiringkan
45˚ dan setelah kurang lebih seminggu kacang hijau tersebut yang telah
dimiringkan tumbuh mengikuti posisi pada saat aqua gelas dimiringkan.
|
b. gerak
pada hewan
Pada
percobaan taksis oleh cacing kami melakukan 3 kali percobaan dengan cacing yang berbeda. Dan hasil yang didapat
adalah seperti yang terlampir dibawah berikut ini :
data dari lapangan
|
Gambar pergerakan
pada cacing menuju bagian yang gelap
|
Waktu yang diButuhkan
|
Keterangan
|
|
Cacing tanah yang
pertama
|
00:01:16:00
|
-
|
|
Cacing tanah 2
|
00:02:34:16
|
|
|
Cacing tanah 3
|
00:01:04:12
|
|
pembahasan
A. gerak
pada tumbuhan
pada praktikum kali ini laboratorium, mengambil
sampel kacang hijau untuk praktikum. Karna lebih cepat tumbuh, hal ini
dipengaruhi oleh Pertumbuhan di pengaruhi oleh faktor hormone dan enzim
serta faktor lingkungan. Salah satu hormone tumbuhan yang terdapat pada
kecambah kacang hijau yaitu hormone Auxin adalah salah satu hormone tumbuh yang
tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Dalam
hal ini kami melakukan 3 percobaan berbeda untuk membuktikan kebenaran dari dari
terori gerak pada tumbuhan yaitu geotropisme, hidrotropisme dan fototropisme.
Hormon
Hormon tumbuhan (disebut juga fitohormon) adalah zat kimia yang berperan dalam proses pertumbuhan tumbuhan. Fitohormon mempengaruhi bentuk tumbuhan, pembentukan biji dan pembentukan organ-organ tumbuhan. Ada 5 kelas utama dalam hormon tumbuhan, yaitu:
Hormon tumbuhan (disebut juga fitohormon) adalah zat kimia yang berperan dalam proses pertumbuhan tumbuhan. Fitohormon mempengaruhi bentuk tumbuhan, pembentukan biji dan pembentukan organ-organ tumbuhan. Ada 5 kelas utama dalam hormon tumbuhan, yaitu:
Ø Asam Absisat (ABA)
Berperan dalam dormansi kuncup dan gugurnya daun-daun.
Ø Auksin (IAA)
Terdapat di meristem apikal dan berperan dalam
pertumbuhan memanjang. Auksin menyebabkan terjadinya dominasi apikal.
ØSitokinin
Berperan mempercepat pembelahan sel dan memperkecil dominasi apikal.
Berperan mempercepat pembelahan sel dan memperkecil dominasi apikal.
ØEtilen
Terdapat pada buah yang sudah tua. Berperan dalam pemasakan buah.
Terdapat pada buah yang sudah tua. Berperan dalam pemasakan buah.
ØGiberelin
Berperan dalam pembelahan dan pemanjangan sel (tetapi tidak pada akar). Giberelin dimanfaatkan untuk menghasilkan buah yang lebih besar.
Berperan dalam pembelahan dan pemanjangan sel (tetapi tidak pada akar). Giberelin dimanfaatkan untuk menghasilkan buah yang lebih besar.
Selain hormon-hormon yang telah
disebutkan di atas, ada pula hormon lain yang juga dihasilkan tumbuhan yaitu:
Ø Kalin, yang
dapat dibedakan menjadi empat:
• Kaulokalin è merangsang proses pembentukan batang
• Rizokalin è merangsang proses pembentukan akar
• Filokalin è merangsang proses pembentukan daun
• Antokalin è merangsang proses pembentukan bunga
• Kaulokalin è merangsang proses pembentukan batang
• Rizokalin è merangsang proses pembentukan akar
• Filokalin è merangsang proses pembentukan daun
• Antokalin è merangsang proses pembentukan bunga
Ø Asam
traumalin è Berperan
dalam memperbaiki bagian tubuh tumbuhan yang rusak.
faktor eksternal meliputi:
Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi dalam fotosintesis. Tanpa cahaya, tumbuhan tidak akan mampu berfotosintesis dengan baik dan menyebabkan tumbuhan terganggu pertumbuhannya. Cahaya juga merupakan faktor penghambat pertumbuhan. Hormon auksin menjadi tidak aktif ketika ada cahaya. Hal ini menyebabkan tumbuhan yang ditanamn di tempat terkena cahaya matahari menjadi lebih pendek dibandingkan tumbuhan yang ditanam di tempat gelap. Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan akan menyebabkan gejala etiolasi di mana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi lemah dan berwarna kuning pucat .Selain itu cahaya juga mempengaruhi arah tumbuh tumbuhan. Peristiwa ini dikenal sebagai fototropisme.
Cahaya merupakan sumber energi dalam fotosintesis. Tanpa cahaya, tumbuhan tidak akan mampu berfotosintesis dengan baik dan menyebabkan tumbuhan terganggu pertumbuhannya. Cahaya juga merupakan faktor penghambat pertumbuhan. Hormon auksin menjadi tidak aktif ketika ada cahaya. Hal ini menyebabkan tumbuhan yang ditanamn di tempat terkena cahaya matahari menjadi lebih pendek dibandingkan tumbuhan yang ditanam di tempat gelap. Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan akan menyebabkan gejala etiolasi di mana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi lemah dan berwarna kuning pucat .Selain itu cahaya juga mempengaruhi arah tumbuh tumbuhan. Peristiwa ini dikenal sebagai fototropisme.
Kelembaban
Kelembaban berkaitan dengan air. Air sangat dibutuhkan dalam proses perkecambahan. Proses perkecambahan dimulai dengan adanya peristiwa imbibisi yaitu masuknya air ke dalam biji sehingga menyebabkan biji membengkak kemudian pecah. Kelembaban yang terlalu tinggi menyebabkan penguapan yang terjadi sedikit. Sehingga transpor air lambat dan makanan lambat sampai ke tumbuhan. Akibatnya tumbuhan lambat tumbuh. Sebaliknya kelembaban yang terlalu rendah menyebabkan penguapan sangat banyak. Sehingga tumbuhan mengalami kekeringan. Nutrisi
Nutrisi merupakan bahan baku dalam proses fotosintesis. Tanpa nutrisi yang cukup, tumbuhan akan sulit tumbuh dengan baik. Nutrisi terdapat di dalam tanah sebagai medium tumbuh tumbuhan. Nutrisi dapat dibedakan menjadi makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dibutuhkan dalam jumlah banyak sedangkan mikronutrien hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
Kelembaban berkaitan dengan air. Air sangat dibutuhkan dalam proses perkecambahan. Proses perkecambahan dimulai dengan adanya peristiwa imbibisi yaitu masuknya air ke dalam biji sehingga menyebabkan biji membengkak kemudian pecah. Kelembaban yang terlalu tinggi menyebabkan penguapan yang terjadi sedikit. Sehingga transpor air lambat dan makanan lambat sampai ke tumbuhan. Akibatnya tumbuhan lambat tumbuh. Sebaliknya kelembaban yang terlalu rendah menyebabkan penguapan sangat banyak. Sehingga tumbuhan mengalami kekeringan. Nutrisi
Nutrisi merupakan bahan baku dalam proses fotosintesis. Tanpa nutrisi yang cukup, tumbuhan akan sulit tumbuh dengan baik. Nutrisi terdapat di dalam tanah sebagai medium tumbuh tumbuhan. Nutrisi dapat dibedakan menjadi makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dibutuhkan dalam jumlah banyak sedangkan mikronutrien hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
a.
Hidrotropisme
Pada percobaan ini kami mendapat hasil
sebagai berikut:
“Kacang
hijau yang ditanam selama kurang lebih seminggu yaitu dengan tanah basah dan
tanah kering dilakukan penyiraman pada tanah yang basah saja, dan kacang
ditanam pada tanah yang kering. Dan tanaman tumbuh mengikuti arah air atau mendekati
tanah yang basah.”
Percobaan ke 1 setelah
penanaman:
Pada percobaan ini
tanaman kacang hijau masih kecil dan akar belum ada tanda – tanda mendekati
tanah gambus atau basah.
Percobaan
hidrotropisme ke 2
Pada
percobaan ini tanaman kacang hijau akarnya sudah mendekati ke tanah gambus.
Percobaan pada hari
terakhir:
Pada
hari terakhir ini kacang hijau sudah tumbuh tinggi dan akar sudah mendekati
arah ke tanah basah yang disengaja dibuat tanah gumbus.
Dari
kasus ini sengaja tanah dibagi menjadi dua bagian dengan kesengajaan agar dapat
membuktikan bahwa kacang hijau mengikuti arah air. Dan sesuai perkiraan bahwa
akar mendekati arah datangnya air. Pertanyaan yang harus dijawab dalam
percobaan ini untuk memahami hal apa yang barusan terjadia adalah kenapa akar mendekati arah datangnya air?
Setelah mendiskusikannya bersama dengan kelompok hal yang paling masuk akal
adalah karna hal ini adalah penyesuaian diri pada diri tumbuhan untuk bertahan
hidup. Akar pada tumbuhan tumbuh sesuai dengan datangnya arah air sebab air
dibutuhkan dalam proses fotosintesis dan hal lainnya. Dan pada percobaan ini
kami sudah membuktikan bahwa arah gerak tumbuhan salah satunya adalah
hidrotropisme yaitu bergerak mengikuti datangnya air.
b.
pototropisme
Pada percobaan ini kami
mendapat hasil sebagai berikut:
”
Kacang hijau yang ditanam dan dimasukkan kedalam kotak. Yang dilubangi hasilnya
adalah kacang hijau keluar menuju arah lobang atau kearah datangnya sinar
matahari. Dua buah tanama berhasil dan satu tidak berhasil”
Percobaan ke 1
Pada hari pertama belum
ada tanda – tanda tanaman kacang hijau akan masuk kedalam lubang untuk
mengikuti cahaya matahari.
Pada percobaan ke 2
Pada percobaan kali ini
tanaman masih belum masuk ke dalam lubang.
Pada percobaan terakhir
tanaman tampak keluar dari lubang yang telah disediakan sesuai dengan format.
Dari kasus ini sengaja kacang hijau
dimasukkan kedalam kotak agar dapat membuktikan bahwa kacang hijau mengikuti
arah datangnya cahaya. Beberapa hal yang berperan penting dalam proses
pototropisme ini adalah hormon auksin. Auksin merupakan zat tumbuh yang
pertama ditemukan. Pengaruh auksin terutama pada perpanjangan atau pembesaran
sel. Sifat dasar auksin yang mempengaruhi perpanjangan sel ini sering digunakan
sebagai pengukur kecepatan pertumbuhan tanaman. Beberapa respons pertumbuhan
dapat ditunjukkan dan dikendalikan oleh auksin. Fototropisme yang
merupakan peristiwa pembengkokan ke arah cahaya dari kecambah yang sedang
tumbuh, dapat didasarkan oleh penyebaran auksin pada bagaian tersebut yang
tidak merata.
Fungsi auksin :
- Merangsang perpanjangan sel
- Merangsang pembentukan bunga- buah
- Memperpanjang titik tumbuh
Dari prosel pemanjangan
inilah kacang hijau memanjang dan mampu keluar dari kotak. Seperti yang kita
ketahui bahwa tumbuhan juga melakukan fotosintesis.
Dari proses
fotosintesis diperolah hasil berupa glukosa dan energi yang akan digunakan oleh
tanaman. Tanaman yang berada di tempat gelap tidak dapat berfotosintesis karena
tidak mendapatkan cahaya matahari sama sekali, sehingga tidak ada energy yang
dihasilkan dan tanaman menjadi pucat (tidak berwarna hijau cerah). Tanaman di
tempat gelap hanya mendapat energy dari kotiledon/endosperm, tapi terbatas.
Jika sudah habis dan tanaman tetap belum bisa berfotosintesis maka tanaman akan
mati arah perkecambahan menuju arah lubang cahaya menunjukkan adanya peristiwa
fototropisme, dimana fototropisme adalah gerak tropisme yang disebabkan oleh
rangsangan berupa cahaya matahari. Fototropisme disebut juga heliotropisme. Fototropisme merupakan
adaptasi tumbuhan untuk mengarahkan tajuknya ke arah cahaya matahari yang
sangat penting untuk berlangsungnya proses fotosintesis. Selain itu,
fototropisme ini berkaitan erat dengan zat tumbuh yang terdapat pada ujung
tumbuhan yang disebut auksin. Pada sisi batang yang terkena cahaya, zat tumbuh
lebih sedikit daripada sisi batang yang tidak terkena cahaya. Akibatnya, sisi
batang yang terkena cahaya mengalami pertumbuhan lebih lambat daripada sisi
batang yang tidak terkena cahaya sehingga batang membelok ke arah cahaya.
c.
Geotropisme
Pada percobaan ini kami mendapat
hasil sebagai berikut:
”Kacang
hijau yang ditanam pada akua gelas plastik dua hari kemudian aqua tersebut
dimiringkan 45˚ dan setelah kurang lebih seminggu kacang hijau tersebut yang
telah dimiringkan tumbuh mengikuti posisi pada saat aqua gelas dimiringkan.”
Pada percobaan ke 1 kacang hijau belum
dimiringkan jadi kacang masih lurus.
Pada percobaan terakhir ini, terlihat
pada gambar bahwa tanaman kacang hijau mmiring.
Dari
kasus ini sengaja kacang hijau dimiringkan karna Berdasarkan pengamatan yang
telah dilakukan. yaitu geotropisme
adalah reaksi tumbuhan terhadap rangsangan gaya berat. Reaksi tumbuh pada
tumbuhan yang diletakkan horizontal. Batang adalah geotropisme negatif
sedangkan akar adalah geotropisme positif. Pembengkokan pada akar terjadi
karena efek dari auksin yang penyebarannya tidak merata pada sisi akar
tersebut. Dalam akar, pengaruh auksin biasanya menghambat pemanjangan sel,
kecuali pada konsentrasi yang sangat rendah. Akibat dari adanya gaya geotropi
auksin banyak dipindahkan dari atas batang belahan bawah bila batang diubah
dari posisi vertikal ke posisi horizontal. Gerak geotropisme pada tumbuhan
berhubungan langsung dengan distribusi dan tingkat konsentrasi auksin dalam
akar dan batang. (Bukti terdapat pada lampiran)
B. Gerak
pada hewan
Dalam praktikum yang
telah kami lakukan mengenai pengaruh cahaya terhadap cacing. Yaitu ada 3 kali
percobaan pada percobaan pertama kami menggunakan cacing yang berukuran besar
di letakkan di gelas petri. untuk menjaga kelembaban permukaan kulit cacing, tanah
yang lembab juga sebagai pendukung kehidupan cacing tanah. Kelembaban ini
sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan daya reproduksi cacing tanah.
Kelembaban yang ideal untuk cacing tanah adalah sekitar 15-50% sedangkan
kelembaban optimum tanah yang dapt ditempati cacing tanah adalah sekitar
42-60%.Cacing bernapas melalui permukaan kulit karena tidak mempunyai alat
pernapasan khusus. Cacing menyukai tempat yang lembab. Dengan cara demikian,
kulit cacing terjaga kelembabapannya sehingga selalu basah dan berlendir. Kulit
yang basah dan berlendir itu memudahkan penyerapan oksigen dari udara. Jadi hal inilah yang menyebabkan kenapa
cacing tanah masuk kedalam bagian gelap yaitu bagian yang ditutupi oleh kertas
karbon berwarna hitam. Yaitu karna cacing tanah harus menjaga kulitnya yang
harus tetap lembab. Kalau cacing tetap di tempat yang kering maka ia tidak bisa
mempertahankan dirinya karna ia akan susah bernapas.
Melalui pembuluh darah di permukaan kulitnya yang tipis, oksigen diikat oleh darah. Darah cacing mampu mengikat oksigen karena mengandung hemoglonin. Oksigen yang diikat oleh hemoglobin itu selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. Zat sisa pembakaran yang berupa karbon dioksida dan uap air dikeluarkan dari tubuh juga melalui permukaan kulit.
Melalui pembuluh darah di permukaan kulitnya yang tipis, oksigen diikat oleh darah. Darah cacing mampu mengikat oksigen karena mengandung hemoglonin. Oksigen yang diikat oleh hemoglobin itu selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. Zat sisa pembakaran yang berupa karbon dioksida dan uap air dikeluarkan dari tubuh juga melalui permukaan kulit.
Respon yang terjadi :
pada Pontoscolex corethurus setelah diberi
rangsangan cahaya yaitu sebagian gelap sebagian terang . Hal ini karena
masing-masing Pontoscolex corethurus bergerak menjauhi cahaya dan
menuju kezona gelap. Orientasi negatif Pontoscolex corethurus ini
menunjukkan bahwa pernyataan Soetjipta (1993) adalah sesuai, bahwa cacing tanah
yang terkena cahaya menerima energi panas secara langsung. Hal ini akan
menyebabkan cacing tanah bergerak menjauhi cahaya, oleh sebab itulah cacing
tanah, dalam hal ini Pontoscolex corethurus lebih menyukai tempat yang
lembab dan terlindung dari cahaya.
Orientasi masing-masing Pontoscolex corethurus tidaklah terjadi dalam
waktu yang bersamaan. Hal ini dikarenakan meskipun telah dipilih Pontoscolex
corethurus yang memiliki ukuran yang sama ukurannya, namun kemampuan
masing-masing Pontoscolex corethurus untuk bereaksi dan bergerak
tidaklah sama. Waktu yang diperlukan masing-masing Pontoscolex corethurus
yang diuju berbeda-beda, yaitu :1. 00:01:16:00 yang ke 2
00:02:34:16 ke 3 00:01:04:12
Arah Pergerakan Pontoscolex
corethurus
Percobaan arah pergerakan Pontoscolex corethurus digunakan
3 ekor Pontoscolex corethurus yang diletakkan kedalam wadah dengan dua
zona, yaitu zona terang dan zona gelap. Pontoscolex corethurus
diletakkan dizona terang. Pengamatan dilakukan selama 10 menit dengan 3 kali
pengulangan. Dari ketiga kali pengulangan percobaan yang dilakukan diketahui
bahwa arah pergerakan Pontoscolex corethurus menuju ke zona gelap. Namun
waktu yang diperlukan oleh masing-masing Pontoscolex corethurus
berbeda-beda dan lebih lambat jika dibandingkan dengan diberinya rangangan
berupa cahaya.
Pada percobaan cacing pertama adalah gambar
pergerakkan cacing dan waktu yang
dibutuhkan adalah 00:01:16:00
Pada percobaan cacing ke 2 waktu yang dibutuhkan
adalah 00:02:34:16
Pada percobaan ke 3 waktu yang dibutuhkan adalah 00:01:04:12
BAB IV
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan yang dapat diambil dari isi makalah ini adalah :
1.
Berdasarkan atas penyebab timbulnya gerak, dapat
dibedakan antara gerak tumbuh dan gerak turgor.
2.
Berdasarkan arah rangsangannya, gerak pada tumbuhan
dibedakan menjadi dua, yaitu : gerak etionom dan gerak endonom (autonom).
3.
Berdasarkan hubungan antara arah respon gerakan dengan
asal rangsangan, gerak etionom dapat dibedakan menjadi : gerak tropisme, gerak
nasti dan gerak taksis.
4.
Tropisme adalah gerak bagian tumbuhan yang arah
geraknya dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan. Mcam-macam gerak tropisme
adalah : fototropisme, geotropisme, hidrotropisme, kemotropisme, tigmotropisme
dan gravitoprisme.
5.
Taksis adalah gerak seluruh tubuh atau bagian dari
tubuh tumbuhan yang berpindah tempat dan arah perpindahannya dipengaruhi
rangsangan. Macam-macam gerak taksis adalah : fototaksis.
Daftar pustaka
Bawa, W. 1993. Studi
tentang Pelestarian Lembu Bos Sondaicus Putih di Bali. FKI, Singaraja
Budiarti, Asiani.
1992. Cacing Tanah. Penebar Swadaya :Jakarta
Dwidjoseputro, D. 1985. Pengantar Fisiologi
Tumbuhan. Jakarta :PT. Gramedia
Khoeruddin, I. 1999. Banyak Yang Tergiur Menjadi Jutawan Cacing. Jakarta : Penebar
Swadaya
Salisbury, dkk., 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 3, ITB, Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar