Jumat, 31 Oktober 2014

puisi 3
Ayahku tercinta

Dua anak sungai mengalir deras di pipiku
Teriakan luka menderu melepas keheningan
Ketika memandang mayat beku terbujur di pembaringan
Aku tahu..... bahwa yang di tutup oleh putihnya kafan orang yang kukenal
            Begitu banyak siraman kenangan
            Tersirat sekilas dalam pikiranku
            Hingga semua jasanya tak dapat kuganti
Tak sanggup kuukir semua kebaikannya
Tak sanggup kukata semua keikhlasannya
Tak sanggup kubalas semua perlindungannya
            Kini ingin kuteguhkan hati
            Kuikhlaskan kau pergi
            Kudoakan kebahagianmu kini
Namun izinkan aku untuk menyampaikannya
Semua yang kau beri ayah
Ada disini......
Bersama jiwa dan ragaku
Aku adalah bukti keberadaanmu
Maka akan kubuat semua orang mengingat namamu
Karna engkau adalah ayahku
Tenanglah engkau di sisi sang pencipta
Karna kini aku akan baik – baik saja
Menjalani roda kehidupan dunia
Berbekal tekad dan nasehat yang telah kau berikan

                                                                                                Buah karya : ismi
puisi 2

pantulan kemanusiaan

tak kuasa pandangan melihatnya
jauh dari kenyataan yang bisa diterima manusia
semua kebaikan,semua sanjungan,semua pujian
hilang hanya karna satu kesalahan
            manusia itu makhluk ambigu
            melihat lalu menyimpulkan
            hanya segelintir orang saja yang bisa memperhatikan
dialah sepembuat kesalahan itu
dulunya ia dihormat orang,
dulunya dia panutan
dulunya dia seorang pahlawan
dengan semua kebaikan yang telah ia lakukan
            tapi hanya karna satu kesalahan ia dijauhkan
            tak ada lagi tempat aman
            tak ada lagi tempat bersembunyi
            kemanapun ia pergi selalu dicaci
            kau pendosa..... kata mereka
            kau penjahat.....ujar mereka
            kau manusia laknat.... teriak mereka
tak ada kebijakan, itulah manusia
kebencianpun datang
sumber kekuatan untuk balas dendam
memperkuat sam pembuat masalah
kenyataan ia telah kotor
membuat ia semakin menjerumuskan dirinya ke lumpur
tak ada penyesalan, tak ada rasa kasihan
begitu terus terulang pantulan diri kemanusiaan

                                                                                                            buah karya : ismi 
puisi 1

Kurungan kesepian
Semau seakan berhenti
Bersamaan dengan diriki yang tertinggal ini
Namun hanya ada di dalam ruangku saja
Wantu tak benar – benar berhenti
Selagi aku menetap di dalam zona aman
Waktu tak benar – benar berhenti
Ketika aku hanya melihat jalannya kesuksesan orang
Waktu tak benar – benar berhenti
Disaat aku memandangi usaha mereka memanggul beban
            ruangku memang sempit
            Tapi cukup untuk membuatku nyaman
            Ruangku memang sempit
tapi cukup membuatku tenang
            ruangku memang sempit
            tapi cukup melindungi dari kejamnya persaingan
orang memanggilku pecundang
tapi aku tetap diam
orang memanggilku bodoh
tapi aku tetap diam
 orang memanggilku payah
tapi aku tetap diam
            karna aku tak begitu mengerti maksud mereka
            aku hanyalah sebongkah daging
            yang mengutuk dirinya di dalam ruang
            aku hanyalah kumpulan partikel
            yang tak bisa lepas dari kurungan
            tak mengertikah kalian
inilah aku
aku yang takut akan terluka
oleh kejamnya dunia
berada di dalam ruangku,
membuat aku tak mengerti apa itu kesedihan
ketika melihat seseorang menangis pilu di depanku
berada di ruangku
membuat aku tak mengerti apa itu kebahagian
ketika melihat mereka berkumpul sambil saling melempar senyuman
            jadi kuputuskan untuk tetap diam
            berada di dalam ruanganku lebih aman
            berada di ruanganku lebih tenang
hingga akhirnya aku harus menghilang
tak membawa apapun dan tak pula meninggalkan apapun
tak ada satupun yang tahu tentang aku
karna kekosonganlah yang sering kupanggil teman
hilangnya waktu yang kuhabiskan di dalam ruang
membuat aku mengerti arti kesepian

                                                                                                            buah karya : ismi