TUGAS
Biologi sel
Macam – macam penyakit yang disebabkan oleh
organel sel

DI
SUSUN OLEH :
NAMA : ismi despito leli
NPM : F1D013015
HARI/TANGGAL : 05 MEI 2015
NAMA : ismi despito leli
NPM : F1D013015
HARI/TANGGAL : 05 MEI 2015
Dosen
pembimbing :
SANTI NURUL KAMILAH, S.Si,
M.Si
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
Macam – macam penyakit yang disebabkan oleh
organel sel
lisosom
Lysosomal Storage Disorders (LSD)
1. Apa yang dimaksud dengan
lisosom?
Lisosom adalah kantung terikat
membran dari enzim hidrolitik yang digunakan oleh sel untuk mencerna
makromolekul. Lisosom memiliki fungsi untuk melakukan pencernaan intraseluler.
Lisosom menggunakan enzim hidrolitik untuk mendaur-ulang materi genetik pada
sel yang dimilikinya. Enzim tersebut dapat bekerja secara optimal pada pH
kira-kira 5. Lisosom mengandung 40 jenis enzim hidrolitik, seperti protease,
nuclease, glikosidase, lipase, fosfolipase, fosfatase, dan sulfatase. Selain
itu, lisosom mampu mendegradasi organel yang sudah rusak, seperti mitokondria.
2. Bagaimana lisosom bekerja
di dalam sel?
Di dalam sel, lisosom bekerja
melalui beberapa cara, yakni:
· Endositosis, yakni
mencerna makromolekul yang diambil dari cairan ekstraseluler. Kemudian,
makromolekul yang diendositosis akan dibawa ke dalam vesicle kecil (endosom).
Kemudian, enzim hidrolase yang dikirim dari apparatus golgi akan mencerna
makromolel tersebut.
· Fagositosis (phagein =
makan, kytos = wadah), yakni proses mencerna makanan berupa pertikel
besar dan mikroorganisme. Cara bekerjanya adalah makanan (partikel besar atau
mikroorganisme) yang tertelan akan membentuk vakuola makanan. Lalu, vakuola
tersebut akan bergabung dengan lisosom dan enzim yang dimiliki lisosom akan
mencerna makanan tersebut.
· Autofagi, yakni proses
mendaur-ulang materi genetik selnya sendiri dengan menggunakan enzim
hidrolitiknya. Cara bekerjanya adalah enzim lisosom melucuti materi yang telah
ditelan, kemudian monomer materi tersebut akan dikembalikan ke dalam sitosol
kembali.
3. Apakah yang dimaksud
dengan Lysosomal Storage Disorders (LSD)?
Lysosomal Storage Disorders
merupakan penyakit genetik yang menyebabkan kurangnya satu atau lebih enzim
hidrolase pada lisosom. LSD mengganggu fungsi enzim lisosom, sehingga akan
mengakibatkan penumpukan partikel-partikel yang tidak dapat dicerna. Beberapa
penyebab terjadinya LDS, yaitu:
- Kurangnya enzim aktivator.
- Kurangnya substrat protein
aktivator.
- Kurangnya transport
protein yang dibutuhkan untuk mengangkut hasil pencernaan dari lisosom.
- Kelainan pada proses
post-translasional protein enzim.
4. Bagaimana LSD
dikategorikan?
LSD dikategorikan berdasarkan
jenis substrat yang mengalami penumpukan, yakni:
1. Kerusakan metabolisme
glukosaminoglikans (Mukopolisakaridosis), yang meliputi: MPS I, MPS II, MPS
III, MPS IV, MPS V, MPS VI, dan MPS VII.
2. Kerusakan degradasi
glikan dari glikoprotein, yang meliputi: Aspatyglucosaminuria, Fucosidosis tipe
I, Fucosidosis tipe II, Mannosidosis, Sialidosis tipe I, dan Sialidosis tipe
II.
3. Kerusakan degradasi
glikogen, yang meliputi: Pompe Disease.
4. Kerusakan degradasi
komponen sphingolipid, yang meliputi: Acid Sphingomyelinase Deficiency,
Fabry disease, Farber disease, Gaucher disease tipe I, Gaucher disease tipe II,
Gaucher disease tipe III, GM1 gangliosidosis tipe I, GM1 gangliosidosis tipe
II, GM1 gangliosidosis tipe III, Tay-Sachs disease tipe I, Tay-Sachs disease
tipe II, Tay-Sachs disease tipe III, Sandhoff disease, Krabbé disease,
metachromatic leukodystrophy tipe I, metachromatic leukodystrophy tipe II, dan
metachromatic leukodystrophy tipe III.
5. Kerusakan degradasi
polipeptida, yang meliputi:pycnodysostosis.
6. Kerusakan degradasi
transport kolesterol, kolesterol ester, atau kompleks lipid lainnya, yang
meliputi: Neuronal ceroid lipofuscinosis type I, Neuronal ceroid
lipofuscinosis type II, Neuronal ceroid lipofuscinosis type III, dan Neuronal
ceroid lipofuscinosis type IV.
7. Defisiensi multipel enzim
lisosom, meliputi:Galaktosialidosis, Mukolipidosis type II, dan Mukolipidosis
type III.
8. Kerusakan transpor dan
pertukaran, yang meliputi: Cystinosis, Mukolipidosis IV, Infantile Siacid
Storage Disease, dan Salla Disease.
5. Apa gejala-gejala “Red
Flag” untuk LSD?
Tanda-tanda Red Flag pada LSD
adalah:
· Bentuk wajah yang
tidak lazim (kadang-kadangdengan macroglossia)
· Kornea terlihat berawan
· Umbilical hernia
· Angiokeratoma
· Bertubuh pendek
· Deformitas skeletal
· Organomegaly (terutama
hati dan limpa)
· Kurangnya kontrol atau
lemah otot (seperti: ataksia, kejang-kejang)
6. Bagaimana patofisiologi
LSD?
1. Umbilical hernia, yaitu
lemahnya otot yang berada di sekitar pusar sehingga organ-organ yang mengalami
pembesaran gampang untuk menonjol ke permukaan menyebabkan perut menjadi tidak
rata.
2. Hepatomegali, yaitu
pembesaran bagian hati melebihi ukuran normalnya sehingga hati tidak mampu
menjalankan tugasnya dalam penawar racun dan darah tidak dapat dirombak serta
penyimpanan glikogen terganggu.
3. Splenomegali, yaitu
pembesaran limpa akibat penumpukan materi tidak tercerna dalam sel-sel limpa.
4. Dysostosis multiplex,
yaitu penulangan tidak sempurna pada tubuh sehingga mengakibatkan tubuh
penderita mengalami kelainan bentuk tulang rawan dan keterbelakangan mental.
5. Hidrosefalus, yaitu
pembesaran kepala akibat akumulasi air di sekitar otak yang memberi penekanan
pada otak, sehingga penderita sering merasa pusing-pusing, perkembangan
terlambat, dan lain-lain.
6. Saraf mata, penderita
dapat mengalami kebutaan akibat gangguan saraf mata, sehingga penglihatan tidak
bisa diteruskan ke otak.
7. Kornea, pandangan menjadi
kabur akibat adanya pengeruhan.
7. Bagaimana pengangan LSD?
a. Hematopoietic stem cell
transplant (HSCT)
Sel-sel induk yang sehat (umumnya
dari sumsum tulang atau tali pusat) ditransplantasikan ke dalam tubuh penderita
LSD melalu intravena. Hal tersebut dilakukan guna untuk menghasilkan
enzim-enzim serta sel-sel sehat yang baru. Namun, ada tantangan dalam melakukan
HSCT, yakni kesulitan untuk mencari donor yang sesuai dan kegagalan
transplantasi. Dengan HSCT, ada kemungkinan terjadinya komplikasi, seperti
penolakan dari sistem imun penderita.
b. Enzyme replacement
therapy (ERT)
Dilakukan dengan cara memasukkan
enzim yang tidak ada di lisosom langsung ke darah penderita LSD melalui
intravena. ERT merupakan pilihan pengobatan untuk GaucherTipe I, Fabry,
dan MPS I.
c. Penghambatan substrat
Hal ini dilakukan dengan terapi
obat untuk menghambat produksi substrat yang seharusnya dicerna oleh enzim
tertentu pada lisosom. Hal tersebut berguna agar tidak terjadi penumpukan
substrat pada sel.
d. Terapi gen
Terapi gen dilakukan dengan cara
menggantikan yang mengalami kelainan dengan gen yang fungsional sehingga sel
dapat bekerja secara normal, yakni menghasilkan enzim secara tepat. Gen yang
ditambahkan dibawa oleh vektor, seperti virus.
Nukleus
Nekrosis Liquefaktif
Nekrosis liquefaktif
merupakan salah satu tipe nekrosis yang termasuk bakteri fokal atau infeksi
jamur. Sebagai akibat autolisis atau heterolisis terutama khas pada infeksi
fokal kuman, karena kuman memiliki rangsangan kuat pengumpulan sel darah putih.
Salah satu contoh nekrosis liquefaktif ditunjukkan dengan kematian sel hipoksia
pada sistem saraf pusat. Apapun patogenesisnya, liquefaktif pada hakikatnya
mencerna bangkai kematian sel dan sering meninggalkan cacat jaringan yang diisi
leukosit imidran dan menimbulkan abses. Materialnya berwarna kuning krem.
Biasanya terdapat pada abses pada otak.
Ciri- Ciri/
Tanda-Tanda Nekrosis Liquefaktif.
Degenerasi menyebabkan perubahan yang
khas pada nukleus khususnya pada sel yang mengalami neurotik.
Perubahan-perubahan biasanya ditandai dengan perubahan mikroskopis, perubahan
makroskopis dan perubahan kimia klinik.
Perubahan mikroskopis pada sel yang
mengalami neurotik liquefaktif terjadi pada sitoplasma dan organel – organel
sel lainnya.Tanda yang terlihat pada inti sel (nukleus)saat mengalami nekrosis antara lain:
·
Piknosis (pyknosis)
Inti sel menyusut hingga mengkerut,
menunjukkan penggumpalan, densitas kromatinnya meningkat, memiliki batas yang
tidak teratur, dan berwarna gelap.
·
Karioreksis
(karyorrhexis)
Membran nukleus robek, inti sel hancur
sehingga terjadi pemisahan kromatin dan membentuk fragmen-fragmen dan
menyebabkan materi kromatin tersebar dalam sel.
·
Kariolisis
(karyolisis)
Inti sel tercerna sehingga tidak dapat
diwarnai lagi dan benar-benar hilang.
Perubahan makroskopis pada sel yang
mengalami neurotik terlihat perubahan morfologis sel yang mati tergantung dari
aktivitas enzim lisis pada jaringan yang nekrotik. Jika aktivitas enzim lisis
terhambat maka jaringan nekrotik akan mempertahankan bentuknya dan jaringannya
akan mempertahankan ciri arsitekturnya selama beberapa waktu. Jaringan
nekrotik juga dapat mencair sedikit demi sedikit akibat kerja enzim dan proses
ini disebut nekrosis liquefaktif. Nekrosis liquefaktif khususnya terjadi pada
jaringan otak, jaringan otak yang nekrotik mencair meninggalkan rongga yang
berisi cairan.
Kematian sel menyebabkan kekacauan
struktur yang parah dan akhirnya organa sitoplasma hilang karena dicerna oleh
enzym litik intraseluler (autolysis).
Tahap infeksi akut awal terjadi denaturasi
protein yang mempengaruhi reaksi leukosit. Kemudian jaringan nekrosis diserap
oleh jaringan granular menyebabkan terbentuknya bekas luka.
Terkadang luka yang terbentuk dapat
sembuh sempurna, misalnya pada hati atau pada orang yang masih muda.
Perubahan-perubahan pada jaringan
neurotik akan menyebabkan :
1.
Hilangnya fungsi darah yang mati.
2.
Dapat menjadi fokus infeksi dan
merupakan media pertumbuhan yang baik untuk bakteri tertentu.
3.
Menimbulkan perubahan sistemik seperti
demam dan peningkatan leukosit.
4.
Peningkatan kadar enzim-enzim tertentu
dalam darah akibat kebocoran sel-sel yang mati.
mitokondria
a. Kelainan
Fungsi Mitokondria dalam Penyakit Kardiovaskuler
Mitokondria
merupakan sumber energi untuk melakukan aktivitas karena zat itu membentuk adenosin
triphospat (ATP). Dalam keadaan tertentu, terutama bila mitokondria mengalami
gangguan fungsi, zat itu tidak akan mampu membentuk ATP. Gangguan fungsi
itu dapat mengakibatkan kerusakan sel secara permanen. Bahkan, diketahui bahwa
fungsi mitokondria bisa ikut dalam mengakibatkan serangan jantung dan stroke.
Karena itu, penting diketahui mekanisme terjadinya mitochondrial dysfunction.
Sel
otot jantung banyak mengandung mitokondria. Ketika terjadi serangan,
oksigen yang masuk ke sel akan berkurang sehingga mengganggu proses
oxidative phosphorylation (OXPHOS). Saat itulah produksi ATP akan menurun. Perubahan itu akan memacu proses glikolisi, namun ATP yang dihasilkan tidak
akan mencukupi kebutuhan sel miosit untuk mempertahankan fungsi jantung. Dalam jangka waktu pendek dan apabila homeostasis sel masih dapat
dipertahankan, sel otot jantung pun masih akan survive meskipun fungsinya
terganggu. Hal itu acap disebut dalam keadaan stunning. Bila keadaan tersebut berlangsung lama, akan terjadi timbunan laktat di dalam sel, yang akan mengakibatkan proses glikolisi menjadi terhambat. ketika seseorang kena serangan jantung, itu bias dikarenakan kelainan fungsi pada mitokondria. Kelainan fungsi itu berbeda dengan mutasi DNA pada mitokondria. Pada mutasi terjadi DNA pada mitokondria atau (mtDNA), penyakit yang diderita pasien umumnya karena faktor keturunan atau karena diturunkan secara genetis. Sedangkan pada kelainan fungsi pada mitokondria, lebih diakibatkan karena kinerja mitokondria yang tidak sebagaimana mestinya.Kelainan fungsi itu berpengaruh besar dalam hal terjadinya serangan jantung. Dengan pembedaan tersebut, dengan kata lain, penyakit jantung belum tentu disebabkan faktor genetis, lingkungan yang mempengaruhi kinerja mitokondria turut berperan aktif dalam hal itu.
oksigen yang masuk ke sel akan berkurang sehingga mengganggu proses
oxidative phosphorylation (OXPHOS). Saat itulah produksi ATP akan menurun. Perubahan itu akan memacu proses glikolisi, namun ATP yang dihasilkan tidak
akan mencukupi kebutuhan sel miosit untuk mempertahankan fungsi jantung. Dalam jangka waktu pendek dan apabila homeostasis sel masih dapat
dipertahankan, sel otot jantung pun masih akan survive meskipun fungsinya
terganggu. Hal itu acap disebut dalam keadaan stunning. Bila keadaan tersebut berlangsung lama, akan terjadi timbunan laktat di dalam sel, yang akan mengakibatkan proses glikolisi menjadi terhambat. ketika seseorang kena serangan jantung, itu bias dikarenakan kelainan fungsi pada mitokondria. Kelainan fungsi itu berbeda dengan mutasi DNA pada mitokondria. Pada mutasi terjadi DNA pada mitokondria atau (mtDNA), penyakit yang diderita pasien umumnya karena faktor keturunan atau karena diturunkan secara genetis. Sedangkan pada kelainan fungsi pada mitokondria, lebih diakibatkan karena kinerja mitokondria yang tidak sebagaimana mestinya.Kelainan fungsi itu berpengaruh besar dalam hal terjadinya serangan jantung. Dengan pembedaan tersebut, dengan kata lain, penyakit jantung belum tentu disebabkan faktor genetis, lingkungan yang mempengaruhi kinerja mitokondria turut berperan aktif dalam hal itu.
b. Kelainan
Fungsi Mitokondria Dalam Penyakit Hati
Satu
organ yang mempunyai reaksi fosforilasi oksidatif yang aktif adalah hati.
Keterlibatan mitokondria pada penyakit hati telah diketahui sejak setengah abad
yang lalu, yakni sejak diketahui kerusakan hati akibat alkohol.
Dengan
berkembangnya imunologi, diketahui bahwa kerusakan hati pada primary biliary
cirrhosis (PBC) terjadi karena kerusakan mitokondria akibat antibodi terhadap
protein mitokondria. Selanjutnya terungkap bahwa penyakit hati yang disebabkan
oleh penimbunan lemak, terjadi melalui kerusakan mitokondria sel hati.
Non
alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan penyakit hati akibat penimbunan
dan infiltrasi lemak pada sel hati. Kelainan metabolis itu sering dituding
sebagai penyebab timbulnya NAFLD, pada keadaan genetik yang normal dan
abnormal. Kelainan mitokondria ini terjadi sebagai akibat peningkatan sintesis
asam lemak yang diikuti mekanisme kompensasi sel berupa fat disposal melalui
esterifikasi lemak menjadi trigliserida dan oksidasi di tiga organel sel yakni
mitokondria, peroksisom dan mikrosom. Kelainan pada mitokondria itu juga
terjadi karena pembentukan bahan-bahan yang bersifat toksik terhadap berbagai
protein respirasi, fosfolipid dan DNA mitokondria. Bahan-bahan bersifat toksik
ini akan menyebabkan kenaikan sistem peroksida lemak, yang selanjutnya akan
memicu timbulnya reaksi radang, induksi sitokin, aktivasi fibrosis dan sebagian
langsung menyebabkan kematian sel.
Selain
akibat penimbunan lemak, kelainan mitokondria pada penyakit hati juga
diakibatkan pengaruh obat. Obat merupakan bahan kimia yang bekerja dengan
berbagai cara yakni langsung pada reseptor, memodulasi enzim atau berikatan
dengan protein sel untuk menimbulkan efek baru. Di lain pihak, hati merupakan
organ yang bertugas menetrasisasi bahan-bahan toksik yang memasuki tubuh.
Badan
golgi
1.
Kanker
Salah satu fungsi badan golgi
sebagai tempat sekresi asam amino untuk membentuk hormon. Salah satu hormon
yang berperan dalam perkembangan sel kanker adalah hormon estrogen. Hormon
estrogen ini berfungsi dalam merangsang pertumbuhan sel tidak terkecuali juga
untuk sel kanker. Sehingga dapat berpotensi meningkatkan perkembangan sel
kanker tersebut. Salah satu hormon yang dapat menghambat perkembangan sel adalah
hormon progestron yang dapat melindungi perkembangan sel yang berlebihan. Hal
ini akan menjadi salah satu masalah apabila badan golgi mensekresi terlalu
banyak hormon estrogen serta terlalu sedikit mensekresikan hormon progestron.
Sehingga terjadinya gangguan keseimbangan pada hormone tersebut. Akibatnya
hormon estrogen akan terus merangsang perkembangan sel kanker tanpa dihalangi
oleh hormon progestron.
2. Dwarfism
Hormon pertumbuhan barupa
polipeptida dengan bm 22.000. Secara fisioligis, sekresinya diatur oleh
hipothalamus. Hipothalamus menghasilkan faktor pengelepas hormon pertumbuhan
(GHRF – growth hormone releasing factor) dan juga menghasilkan somatostatin
(GHIH – growth hormone inhibitory hormone) yang menghambat sekresi hormon
pertumbuhan. Defisiensi hormon pertumbuhan dapat disebabkan oleh defek
hipofisis (tidak adanya hormon pertumbuhan) atau sekunder dari disfungsi
hipotalamus (tidak adanya GHRH). Hiposekresi hormon pertumbuhan pada anak-anak
menimbulkan cebol (dwarfism). Hiposekresi hormon pertumbuhan disebabkan oleh
menurunnya sintesis protein oleh sel, sehingga pertumbuhan tulang terhambat.
Menurunnya sintesis protein oleh sel dapat disebabkan oleh gangguan pada badan
golgi dalam mengemas hasil produksi ribosom.
3. Cystic
fibrosis
Cystic fibrosis atau CF, adalah
penyakit kelenjar sekretori warisan , termasuk kelenjar yang memproduksi
berlebihan lendir dan keringat. CF kebanyakan mempengaruhi paru-paru, pankreas,
hati, usus, sinus, dan organ-organ seks.
Lendir merupakan zat yang dibuat
oleh lapisan dari beberapa jaringan tubuh. Biasanya, lendir adalah zat, licin
berair. Itu membuat lapisan-lapisan dari organ-organ tertentu lembab dan
mencegah mereka dari pengeringan atau mendapatkan terinfeksi. Hal ini tentu
saja akan mempengaruhi kerja badan golgi pada sel-sel organ tersebut.
Misalnya pada organ paru-paru,dimana
lendir menumpuk di paru-paru dan saluran udara yang membawa udara masuk dan
keluar dari paru-paru. Penumpukan lendir memudahkan bakteri untuk tumbuh. Badan
golgi sendiri akan terhalangi fungsinya oleh lendir tersebut. Sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi paru-paru serius.
4. Tay-Sachs
Lisosom; organ pencernaan sel.
Tersusun dari membran yang mengandung enzim-enzim hidrolitik kuat. Enzim-enzim
tersebut berasal dari kompleks golgi. Lisosom baru terbentuk dari
kumpulan khusus enzim hidrolitik yang baru disintesis dan tertangkap di dalam
vesikel berselubung yang kemudian melepaskan diri dari kompleks golgi. Suatu
bahaya inheren bahkan pada sel sehat dan utuh adalah pecahnya membran lisosom
tanpa sengaja dan menimbun di dalam lisosom. Faktornya bisa disebabkan oleh
enzim-enzim hidrolitik yang bekerja optimal pada suasana asam, sehingga bagian
dalam lisosom lebih asam dari bagian luarnya. Salah satu penyakit ini adalah
penyakit Tay-Sachs, ditandai oleh adanya penimbunan abnormal
senyawa golongan gangliosida, yaitu molekul kompleks yang ditemukan di sel-sel
saraf.
Membran
plasma
Hemolisis
dari bahasa Yunani αἷμα (aima, haema, hemo-) berarti
"darah" dan λύσις (lusis, lysis, -lysis) berarti
"lepas", "menjadi bebas" atau "mengeluarkan"[adalah
pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara
lain penambahan larutan hipotonis atau hipertonis ke dalam darah, penurunan tekanan
permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan atau pendinginan, serta rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis
(karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan) akan masuk ke
dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak
kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel
akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya.
Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar
eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).
Daftar pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar